Markus11:1-11 Menggambarkan suasana penyambutan kedatangan Yesuske Yerusalem saat itu. Peristiwa kedatangan Yesus ke Yerusalem ini ditulis oleh empat injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Sungguh Ironis memang begitu mereka mengelu-elukan hosianna namun beberapa hari (minggu ini adalah Passsion IV), setelah itu mereka menyalibkan Tuhan
Minggu 17 April 2011. Hari Minggu Palma. Mengenangkan Sengsara Tuhan. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Flp 2:5) Antifon Pembuka. Terpujilah Putra Daud! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan! Terpujilah Yang Mahatinggi! (Mat 21:9)
NASIHATUNTUK ANGGOTA SIDI BARU. P : Kamu telah menerima Kristus Yesus Tuhan kit. Karena itu, hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia; hendaklah kamu berakar di dalam Dia, dan di bangun di atas Dia; hendaklah kamu bertambah teguh, di dalam iman yang telah diajarkan kepadamu dan hendaklah hatimu berlimpah dengan syukur.
RenunganPrapaskah 2020 - Minggu III: "Berkolaborasi Merawat Bumi" Engkau yang hidup, yang mati dan bangkit lagi, Engkau menghimpun segala bentuk mahkluk yang ada menjadi satu. air, udara dan pada semua bentuk kehidupan. Oleh karena itu bumi, terbebani dan hancur, termasuk kaum miskin yang paling ditinggalkan dan dilecehkan oleh
Renungan/ 1 Petrus 1:3-9, Minggu 27 April 2014. Introitus : Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya. (Yoh.20:31). Pembacaan : Mazmur 16:1b-11; Khotbah : 1 Petrus 1:3-9. Tema : Iman Yang Menghidupkan.
Yesusyang sengsara dan wafat, membawa kemenangan atas maut. Pada gilirannya, kelak kita juga akan ikut dibangkitkan bersama-Nya dan ikut mengalahkan dosa serta maut, lewat pembaharuan hidup kita masing-masing. "Hosanna! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!" (Yoh.12:13b).
RenunganMingguan: Renungan 2018 Renungan 2017 RENUNGAN 2016 Renungan 2015 Renungan 2014 Apa hal-hal besar yang telah Tuhan karuniakan dalam hidup kita? Mungkin, tidak banyak orang yang bisa langsung menjawab pertanyaan ini dengan baik. "Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia
Diakhir Renungan Harian Katolik ini disediakan teks lengkap bacaan Pekan Biasa XIX, Minggu 7 Agustus 2022 beserta mazmur tanggapan dan bait pengantar Injil. Hendaklah kamu sama seperti orang yang
Semuarenungan dari Tulisan Roh Nubuat Ellen G. WHITE yang dituangkan dalam bentuk Audio Mp3. Religion & Spirituality · 2022 Global Nav Buka Menu Global Nav Tutup Menu
RENUNGAN Renungan Harian; Renungan Mingguan; Renungan Harian; Renungan Mingguan; SPIRITUALITAS IGNATIAN; Sign in. Welcome! Log into your account. your username. your password. KAUM MUDA KELUARGA KESEHATAN Keuskupan Kisah Romo Martin KOMUNITAS RELIGIUS Konsili Vatikan II KWI LENTERA KEHIDUPAN Lingkungan Hidup dan Keutuhan Ciptaan
gmd0C. Bumi/Tanah Tidak Sehat.'erets ló 'aruwkahDalam perenungan akan arti Kesengsaraan yang dilalui oleh Yesus Kristus dua ribu tahun lalu " Markus 8 31", demi memperbaiki hubungan Manusia dengan Allah yang rusak karna dosa-dosa manusia sendiri, semestinya membawa kita pada kesadaran betapa berharganya kehidupan sebagai seharusnya dan selayaknya mengerti benar akan arti kesengsaraan-Nya itu, dan berterima kasih serta hidup seturut Kehendak-Nya, sebagai bentuk nyata rasa terima kasih kenyataannya sampai sekarang kebanyakan dari kita justrul menjadi penyebab kesengsaraan-kesengsaraan bagi sesama kita dan bahkan bagi Bumi/Tanah Virus Corona menjadi pergumulan Dunia sampai ke pelosok-pelosok seperti di Raijua, kita berpikir bahwa umat manusia ada dalam kesengsaraan/kesakitan, dan memang terlihat demikian. Namun dalam perenungan kita harus sadar bahwa sebenarnya yang sedang sengsara/sakit adalah Bumi/tanah ini, karna ulah terbesar dari manusia sendiri "Yeremia 12 1-4".Dahulu sejak zaman nenek moyang kita, setiap penyakit pasti akan ditemukan obat yang disediakan oleh Bumi/Tanah, tetapi sekarang tidak, virus Corona dan penyakit lainnya seakan tiada obatnya! Karena apa? Bumi/Tanah tidak lagi baik seperti dahulu, Bumi/Tanah begitu sengsara dalam kesakitan akibat ulah kita, Mulai dari hal kecil seperti membuang sampah sembarangan, sampai hal yang besar seperti limbah pabrik dan penebangan Bukan manusia yang sedang sengsara, Tetapi Bumi/Tanah yang sedang sengsara "Mazmur 107 34". Kesengsaraan kita hanyalah ikutan dari itu dan tidak adanya lagi pertolongan yang disediakan oleh Bumi/Tanah kesengsaraan di minggu-minggu sengsara ini, agar kita sadar tanggungjawab iman kita yang sesungguhnya selama ini terabaikan. Oleh Setiawan Patipalohi, Februari 2021, Pelayan Jemaat Di GMIT Sion Boko, Raijua
Bacaan Yes. 504-7; Flp. 26-11; Mat. 26-27;66 atau 2711-54 Perarakan Mat. 211-11 Perayaan Pekan Suci dan khususnya Hari Minggu Palem tahun ini tentu berbeda atau lain dari biasanya. Kita sedang dalam ancaman Covid-19 atau Corona virus yang sedang melanda dunia, juga sedang mengancam setiap kita di sudut dunia manapun. Berbagai upaya Pemerintah dalam penanganan wabah ini, dan kita pun diminta untuk ikut terlibat dengan penuh kesadaran mengatasi dan bahkan memutuskan mata rantai penyebaran virus ini dengan melakukan tindakan nyata seperti, mengisolasi diri, menjauhkan diri dari kerumunan, untuk tidak ke mana-mana dan tinggal di rumah, disiplin diri jaga kesehatan dan kebersihan, mencuci tangan, mengambil jarak dengan orang yang ada di sekitar kita, meningkatkan daya tahan tubuh melalui makanan yang bergizi, dlsbgnya. Dan karena itu, demi keselamatan dan kesehatan banyak orang, tidak ada ibadah bersama, seperti misa, dll yang memungkinkan banyak orang berkumpul supaya dihindari. Umat dapat mengikuti perayaan ekarisiti secara live streeming melalui TV atah HP. Dengan penuh iman kita terus berdoa dan berpasrah kepada Tuhan agar wabah ini segera berlalu. Merayakan Hari Raya Minggu Palem kali ini tidak dengan sebuah pawai sambil bersorak hossana menyambut Yesus Sang Raja masuk kota Yeruslem, yang ditandai dengan pawai di luar atau di dalam Gereja. Tetapi, dalam keheningan dan kesunyian hati yang mendalam kita menyambut Yesus masuk Yerusalem rumah dan keluarga kita, dalam setiap hati yang penuh kerinduan dan penuh harapan ketika sedang dalam kecemasan di tengah mewabahnya virus corona yang membahayakan hidup setiap orang. Kali ini, tidak dengan daun palem di tangan sambil bersorak gembira akan datangnya Yesus Putera Daud. Kita tetap menyambut Yesus dengan iman yang teguh, Sang Raja yang selalu siap menderita bersama kita. Dia selalu menderita dan mengambil penderitaan kita agar kita diselamatkan. Memang kita sering menjadi ragu akan karya besar Allah yang selalu mengasihi kita, juga ketika kita sedang dilanda wabah corona virus ini. Wabah virus corona ini tidak pandang bulu, tidak pandang suku, bangsa, agama, kaya atau miskin. Maka peristiwa ini harusnya membuat kita sadar bahwa betapa berharganya hidup ini. Tidak hanya dengan daun palma di tangan, tetapi dengan hati yang penuh damai, hati yang penuh kasih, persaudaraan dan pengampunan, kita membiarkan diri kita, hidup kita, keluarga kita dipakai oleh Allah untuk kebaikan dan keselamatan banyak orang, juga menjaga diri kita dari wabah yang melanda dunia ini. Yesus selalu memerlukan kita agar kita mengalami keselamatan. Ia Raja yang rendah hati. Kebesarannya terletak pada cinta dan pengabdian. Ia tetap dan selalu mencintai kita, juga dalam situasi yang sedang kita hadapi saat ini, karena itu Ia masuk ke Yerusalem hati, hidup rumah dan keluarga kita saat ini. Ia juga mau mengalami apa yang sedang kita hadapi dan alami saat ini, bahkan melalui penderitaan, salib dan kematian-Nya kita pun diselamatkan. Ia adalah hamba yang menderita. Bacaan-bacaan yang kita renungkan menggambar betapa Yesus yang tak bersalah itu, dijatuhi hukuman yang tidak adil. Ia menanggungnya demi keselamatan, kebahagiaan dan tebusan bagi kita orang-orang yang berdosa. Hamba yang menderita tidak memperhitungkan keselamatan diri-Nya. Ia tidak dengan terpaksa, tetapi dengan sebuah kesadaran akan ketaatan-Nya pada kehendak Bapa, agar kita manusia yang berdosa ditebus, diselamatkan. Segala penderitaan kita diangkat-Nya. Kepasrahan kepada Allah dan cinta kepada manusia memberanikan Yesus untuk menghadapi jalan yang terpahit sekalipun; sebab Dia meyakini kepastian bahwa tugas perutusan-Nya tidak akan sia-sia. Pesan yang mau disampaikan adalah bahwa hidup di jaman sekarang ini mungkin sulit sekali menghargai sebuah pelayanan. Yesus sang pelayan, hamba yang setia daan menderita demi pelaksanaan pelayanan-Nya. Dan kita sebagaimana yang diharapkan oleh Rasul Paulus agar punya kerelaan dan leberanian untuk melayani Allah dan sesama. Kisah sengsara di hari minggu awal pekan suci ini mengajak kita untuk menyadari bahwa Yesus memerlukan teman berjaga. Berjaga dalam doa, agar kita tidak jatuh dalam dosa. Yesus membutuhkan orang yang diajak kerjasama, membantu dalam berbagai tantangan dan kesulitan seperti saat ini, agar semua orang diselamatkan. Kita tidak bersikap acuh dan masa bodoh, tetapi punya kepedulian atas kehidupan, kesehatan dan keselamatan orang lain. Semoga kita pun berani menyerahkan diri bersama Yesus dalam kesepian dan mau setia kepada kehendak Bapa-Nya. Sebagaimana Yesus, Ia menyatakan kesetiaan-Nya yang tuntas pada salib. Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa badai virus corona telah membuka kelemahan kita. Dia membuka kebiasaan dan kelemahan kita. Badai membuka hati kita untuk menyeimbangkan hidup kita dengan hati kita. Dengan badai, terungkaplah tipuan-tipuan kita yang ditutupi dengan egoisme kita. Dalam masa PraPaskah ini, kita diingatkan untuk kembali dan percaya kepada Tuhan, Kini adalah saat melihat dan memperhatikan satu sama lain. Kita mengundang Yesus ke dalam perahu hidup kita karena Dia-lah yang memenangkan semuanya. Karena Tuhan membuat semuanya menjadi baik. Karena di dalam Tuhan, semua hidup. Tuhan menguatkan iman kita menuju iman Paskah. Kita tahu, melalui salib-Nya kita diselamatkan. Kita memiliki harapan bahwa melalui salib-Nya, kita dirangkul agar kita semua dirangkul oleh kemaharahiman-Nya. Salib bukan karena kesalahan-Nya, tetapi Salib adalah sebuah perjuangan menegakkan Kerajaan Allah. Salib adalah jalan keselamatan, jalan mengenal misteri kasih Allah yang tak pernah berhenti walaupun ada hambatan, tantangan, kesulitan. Salib dan jalan salib adalah jalan keselamatan bagi Yesus, bagi para murid-Nya, bagi kita. Semoga dalam keheningan ketika saat ini kita berdiam diri di rumah, dan dengan diri kita sendiri, kita terus menyerahkan diri dalam kepercayaan karena jalan itulah yang dicontohkan oleh Yesus kepada semua yang hendak mengikuti-Nya. Yang bertahan sampai akhir akan mendapat mahkota abadi. Tuhan memberkati ***** Ditulis oleh Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr; Sekretaris Komisi Kateketik KWI
Maaf, halaman yang Anda cari di blog ini tidak ada. Maaf, halaman yang Anda cari di blog ini tidak ada. Langganan Postingan Atom